(0291) 291 2998 kudus@syakirawisata.com

Sewaktu pembangunan guna perluasan Jamarat yang megah dan besar pada tahun 2005, puluhan area perbukitan dan gunung-gunung dihancurkan. Yang unik pada tahun 2006, ketika penghancuran dan pengerukan dilakukan ditemukan sebuah bangunan masjid kuno dan antik  menurut penjelasan dari pakar arkeologi dan para senior yang sudah sangat berpengalama dalam bidang  sejarah, masjid ini merupakan Masjid Baiah atau tepatnya Masjid Al Baiat Al aqabah. Meskipun Terpendam Ratusan Tahun,  Masjid di Mina Ini Tak Mampu Dihancurkan Buldozer

masjid al bai'at mina umroh

Dari rangkuman berbagai sumber, masjid kuno ini berukuran 400 meter persegi. Memiliki ukuran panjang 17 meter dan lebar  29 meter serta elevasi  ketinggian sekira 7 meter. dinding pada ruas  belakang setinggi 2 meter ini ditemukan saat ketika pembangunan Jamarat di tahun 2005. Sebelumnya, masjid yang terpendam ini Cuma diketahui oleh kalangan terbatas.

Sebab pemerintah Saudi paling khawatir bilamana jamaah haji dan umroh akan melakukan syirik pada masjid yang  letaknya jauh dari pusat keramaian ini. Tidak sebagai layaknya suatu masjid bersejarah pada umumnya, masjid kuno berwarna krem ini dikelilingi pagar besi berwarna hitam dan dikunci gembok. Sehingga seluruh jamaah umroh atau jamaah haji, saat musim haji datang tidak dapat mengerjakan sholat di dalam masjid Al Baiah.

Walaupun begitu, seluruh pengunjungnya masih dapat menyaksikan situasi dari luar atau sebatas melongok sejumlah ruangan dari jendelanya yang memang kondisinya seakan  tidak dipedulikan dan dibaiarkan terbuka.

Dalam proses pembangunan Jamarat di tahun 2006, buldozer yang menggarap pengerukan tanah menyentuh batu yang teramat keras. Berbagai upaya dan tekhnologi canggih juga dikerahkan. Namun herannya batu itu tidak bisa dihancurkan, bahkan sampai memakan jangka masa-masa berminggu – minggu untuk menghancurkan batu berwarna krem tersebut.

Sadar bahwa yang bakal dihancurkan bukanlah batu biasa, semua pekerja juga mendatangkan pakar yang telah berpengalaman di bidangnya. Dan benar saja , setelah diteliti, ternyata batu tersebut adalah salah satu bagian dari bangunan masjid. Dan ajaibnya, tidak satupun perlengkapan berat yang bisa menghancurkannya. Akhirnya masjid tersebut tidak dipedulikan,  dan hingga kini tidak dipedulikan seperti apa adanya saat di temukan.

Kendati demikian, bangunan masjid Al Baiah ini secara legal tidak difungsikan sebagaimana layaknya masjid pada umumnya. Cerita penemuan masjid yang Terpendam Ratusan Tahun,  Masjid di Mina Ini Tak Mampu Dihancurkan Buldozer akhirnya menyebar dari mulut kemulut dan viral di sekian banyak  media social. Kini masjid tersebut digunakan sebagai tempat berziarah hampir semua jamaah haji dan umroh.

masjid al bai'at jamarat

Saat jamaah Umroh Murah Syakira Wisata mendatangi masjid ini, tampak bahwa masjid Al Baiah telah  banyak “dipelihara” oleh para pekerja peluasan Jamarat. Sebagai contoh,  tempat imam sholat diberi sajadah dan diberi karpet. Di tempat imam juga ada stand tempat membubuhkan  microphone sehingga terkesan masjid ini seolah masih aktif digunakan. Di sudut bagian depan terdapat tempat sebagai rak tempat menyimpan Al Quran.

Karena bangunan masjid Al Baiah terbuka tanpa atap, maka di dalam masjid tidak ubahnya seperti pelataran. Jangankan Marmer laksana di Masjidil Haram, lantai ubin juga tidak dipasang. Namun anda patut berbangga pada pemerintah Saudi, biasanya kerajaan ini menghancurkan sebuah situs tanpa memperhatiak sejarahnya. Atau mungkin sebab Masjid Ini Tak Mampu Dihancurkan Buldozer? Wallahu A’lam Bishawab

Dalam literature sejarah pembangunan Masjid Al Bai’at dilakukan pada zaman  Dinasti Abbasiah untuk menghormati Abbas bin Abdul Muthalib. Pembangunan Masjid ini di maksudkan sebagai penghormatan atas terjadinya Bai’at Aqabah, karena di tempat inilah kaum Yatsrib (masyarakat kota Madinah) bersumpah setia (bai’at) guna Rasulullah untuk taat dan tidak menggarap hal syirik. Ketika itu, Rasulullah SAW ditemani pamannya Abbas bin Abdul Muthalib yang belum beriman. Meski demikian, ia paling mengutamakan keselamatan  untuk keponakannya.

Bai’at di Aqabah terjadi dua kali. Baiat Aqabah pertama yang terjadi tahun 621 M, yaitu perjanjian antara Rasulullah SAW dengan 12 orang dari Yatsrib yang kemudian mereka menyampaikan dua kalimat sahadat sebagai pertanda keimanan. Baiat Aqabah ini terjadi pada tahun kedua belas ke Nabiannya. Kemudian mereka berbaiat (bersumpah setia) untuk Rasulullah SAW. Adapun isi baiat itu, berjanji penduduk Yatsrib tidak akan menyekutukan Allah SWT dengan sesuatu apa pun; mereka bakal bertaqwa, mengemban  apa saja perintah Allah; dan ketiga, mereka bakal meninggalkan segala apa – apa yang menjadi larangan Allah SWT

masjid al bai'at makkah umroh murah semarang

Setahun kemudian, tahun 622 M, Rasulullah membai’at kembali penduduk Yatsrib di Aqabah. Kali ini perjanjian dilakukan Rasulullah terhadap 73 orang pria dan 2 orang wanita dari Yatsrib. Wanita itu merupakan Nusaibah bintu Ka’ab dan Asma’ binti ‘Amr bin ‘Adiy. Perjanjian ini terjadi pada tahun ketiga belas kenabian. Musha’ab bin Umair yang ikut berbaiat pada Baiat Aqabah pertama ternyata pulang lagi ikut bersamanya beserta dengan penduduk Yatsrib yang sudah terlebih dahulu masuk Islam

Mereka menjumpai Rasulullah di Aqabah pada suatu malam. Rasulullah SAW datang kembali bareng  pamannya Abbas bin Abdul Muthallib. Meskipun ketika peristiwa  tersebut Abbas masih musyrik, tetapi untuk orang-orang Yatsrib tersebut ia berkeinginan meminta jaminan keamanan keponakannya yaitu Rasulullah  Muhammad SAW.

Sebelum Rasulullah SAW membacakan sebanyak ayat Alquran dan menyerukan tentang Islam, Abbas menjadi orang kali pertama  yang berkata terhadap warga Yatsrib yang didatangi nya

masjid al bai'at makkah umroh murah

Lalu orang-orang Yatsrib itu berbaiat pada Nabi Muhammad. Isi bai’atnya yaitu Orang – orang warga kota Yatsrib tersebut akan mendengar dan taat, baik dalam perkara yang mereka sukai maupun yang mereka benci; sambil mereka bakal berinfaq, baik dalam keadaan sempit maupun lapang; Mereka akan beramar ma’ruf nahi munkar. Mereka juga berjanji agar mereka tidak terpengaruh celaan orang-orang yang mencerca di jalan Allah SWT, dan mereka berjanji akan melindungi Nabi Muhammad sebagaimana mereka melindungi para wanita dan anak mereka sendiri

Inilah tempat dan peristiwa bersejarah dan ialah titik balik kemenangan Islam dan kaum Muslim, yang terkadang tidak sedikit umat muslim yang tidak memahami atau bahkan dilupakan. Bagaimana tidak, tanggal 10 Dzulhijjah, saat para jamaah haji terdapat di Mina beberapa besar melulu  melontar  Jumrah Aqobah saja. Seolah tempat dan peristiwa bersejerah itu pun tidak ada dalam kenangan mereka. Padahal, seharusnya dengan dikhususkannya Jumrah Aqabah tanggal 10 Dzulhjjah tersebut dapat menggugah pertanyaan dalam pikiran para jamaah haji, Ada Apa Dengan ‘Aqobah?

Inilah sedikit kisah yang sekaligus mengulik kenyataan sejarah masjid yang meskipun Terpendam Ratusan Tahun Masjid di Mina Ini Tak Mampu Dihancurkan Buldozer dari Syakira Wisata, Penyelenggara Umroh Murah dan Haji Khusus di Kabupaten Kudus. Semoga bermanfaat.