(0291) 291 2998 kudus@syakirawisata.com

Setelah berdirinya Masjid Quba  serta menjadi pusat kegiatan umat Muslim kala itu, rupanya orang-orang munafik merasa sangat terusik atas hubungan persaudaraan yang sangat erat di kalangan umat Muslim. Mereka akhirnya membangun Masjid Dhirar, masjid nan megah namun tanpa dasar ketaqwaan kepada Allah SWT di Madinah. Pembangunan masjid ini tak lain dengan tujuan memecah belah hubungan persaudaraan dan memperlemah kesatuan umat Islam.

Sebelum Rasulullah SAW hijrah ke kota Yatsrib (Madinah), di kota suci terdapat seorang lelaki dari bani Khazraj yang memiliki julukan Abu Amir ar-Râhib. Pria ini saat masa jahiliyah memiiki keyakinan  Nasrani dan mengdalami kitab – kitab ajarannya, atau boleh dikatakan dia termasuk dalam golongan orang yang rajin beribadah pada masa itu. Dari sisi lain Abu Amir juga mempunyai jabatan dan pengaruh besar dalam sukunya.

Ketika Rasulullah SAW resmi berpindah ke Madinah, kaum Muslimin bersatu di bawah kepemimpinan Rasulullah SAW sehingga Islam yang dahulu masih sebagai minoritas menjadi kuat, apalagi setelah atas seizin Allah SWT, Rasulullah SAW berhasil menang pada waktu terjadi perang Badar.

Melihat keadaan tersebut nampaknya Abu Amir tak rela, dia secara tegas menampakkan permusuhannya terhadap kaum Muslimin hingga pada saatnya Amir pergi ke Mekkah menemui petinggi kaum kafir Quraisy untuk mengajak mereka memerangi ajaran Rasulullah SAW dan kaum Muslimin di Madinah. Orang kafir Quraisy pun menyetujui nya dan mulai merancang kekuatan; hingga pecahlah perang Uhud.

Tak cukup sampai disitu, Amir juga berusaha mengajak kaum Anshar, penduduk asli Madinah untuk bersama – sama dan setujui akan buah pemikirannya. Namun tatkala kaum Anshar mengetahui kedok dan siasat buruk abu Amir, mereka pun mencela, serta –  merta mencaci maki nya seraya menghujatnya, ”Celakalah Kamu Abu Amir, pembangkang  Allah SWT, semoga Allah SWT menjadikanmu sebagai orang yang dibenci setiap kaum yang melihatmu”,

Rasulullah SAW juga telah mengajak Amir secara damai untuk menjadikan Islam sebagai agamanya, dengan membacakan ayat suci al-Qur’an kepadanya, sebelum dia akhirnya lari ke Romawi guna meminta bantuan raja Romawi saat itu. kepada Rasulullah SAW Sebelum pergi Abu Amir sempat berkata  , “Tidak akan Kau temui suatu kaum yang akan memerangimu kecuali aku bersama mereka”

Atas bantuan raja Romawi dalam memerangi Rasulullah SAW, Amir memerintahkan golongan munafik dari penduduk Madinah untuk membangun Masjid Dhirar. Yang lokasinya berdekatan dengan Masjid Quba. Masjid yang arsitekturnya lebih indah dari Masjid Quba ini rampung dikerjakan sesaat sebelum Rasulullah SAW berangkat ke Tabuk. Lalu orang dari golongan kaum munafik ini  membujuk Rasulullah agar mau mendatangi dan melaksanakan shalat di Masjid itu.

Pikiran picik mereka berniat menjadikan shalat beliau ini sebagai landasan bagi para kaum muslimin lainnya, seolah Rasulullah SAW menyetujui pembangunan Masjid tersebut. Para kaum munafik menyebutkan alasan mendirikan Masjid Dhirar sebagai tempat orang-orang tua maupun yang sakit (yang tidak bisa hadir shalat berjama’ah di Masjid Quba) pada saat malam musim dingin (akan tetapi alasan ini hanyalah tipu muslihat mereka semata.

Mereka membujuk Rasulullah “Kami senang jika Engkau datang dan shalat di Masjid kami wahai kekasih Allah.” Tanpa berkhusznudhon, Rasulullah SAW dengan bahasa yang santun memberikan jawaban ,” Aku (Rasulullah SAW) sekarang akan berangkat untuk melakukan sebuah perjalanan, Insya Allah setelah kembali nanti aku akan mengunjungi kalian dan menunaikan shalat di Masjid kalian.”

Dalam perjalanan sepulang dari Tabuk, beliau Rasulullah SAW beristirahat di tanah Dzu Awan (sekitar setengah hari perjalanan dari Madinah). Pada saat beristirahat itulah Allah SWT menurunkan ayat yang tujuan nya memberi peringatan kepada beliau Rasulullah SAW (dan umat Muslim lain) tentang Masjid Dhirar (dan larangan shalat di dalamnya), masjid yang dibangun tanpa ketaqwaan terhadap Allah SWT dengan menurunkan ayat :

Allah SWT melarang Rasulullah SAW agar tidak menunaikan shalat di Masjid Dhirar.  Atas tipu muslihat dan akal licik dari orang-orang munafik, Rasulullah SAW memberi perintah kepada para sahabat NYA, Malik bin Dukhsyum dan sahabat Ma’an bin Adi  untuk menghancurkan Masjid Dhirar. Selanjutnya memerintahkan lokasi bekas bangunan Masjid Dhirar dijadikan tempat pembuangan sampah dan bangkai binatang.

Kemudian Rasulullah SAW mengutus Malik bin Dukhsyum saudara Bani Salim dan Ma’an bin Adi seraya berkata kepada mereka dengan penuh ketegasan seorang khalifah. Beliau memerintahkan kedua sahabat setia NYA untuk menghancurkan dan membakar Masjid  Dhirar yang dibangun oleh orang-orang dzalim.  Serta – merta mereka pun membakar dan menghancurkannya, sehingga orang yang berada di dalamnya (berlarian) keluar

Inilah akhir dari Masjid yang didirikan atas dasar kemunafikan dan niat yang tidak baik, niat untuk memecah belah umat Islam, melakukan siasat dan propaganda yang bisa memicu rasa saling bermusuhan di antara sesama muslim.

Kunjungan ke Masjid Quba merupakan agenda ziarah dan city tour kota Madinah jamaah umroh Syakira Wisata cabang Kudus. Tapak dari bekas tempat berdirinya Masjid Dhirar sendiri saat ini berada satu kompleks dengan Masjid Quba.  Setidaknya Pelajaran yang dapat kita petik dari Kisah Penghancuran Masjid Dhirar ini adalah :

  1. Tiap Masjid seindah apapun bangunan nya apabila didirikan hanya bertujuan untuk memberikan madharat dan memecah persaudaraan kaum Muslimin, atau bahkan memusuhi Allah SWT dan aqidah Rasulullah SAW, maka hukumnya wajib dibinasakan.
  2. Kita Tidak boleh mempercayai perkataan orang-orang munafik, karena perkataan merupakan tipu muslihat semata.
  3. Masjid Quba dan Masjid Nabawi didirikan atas dasar taqwa sejak hari pertama, maka beribadahlah disana