(0291) 291 2998 kudus@syakirawisata.com

Ka’bah adalah sebuah bangunan yang memiliki sejarah pembangunan ka’bah yang teramat panjang. Ada berbagai teori yang dicoba ajukan untuk menjawab misteri tentang  awal keberadaan bangunan istimewa ini. Pembangunan ka’bah telah dilakukan beberapa kali dari beberapa generasi. Banyak riwayat-riwayat yang terdapat di dalam buku-buku sejarah.

Diantaranya,

  1. ka’bah dibangun oleh malaikat.

Dalam Tarikh Mekah al- Musyarrafah, imam Ibnu adh-Dhiya telah meriwayatkan dari Ali bin al-Husein bahwa ia telah ditanya tentang awal mula thawaf. Beliau menjawab bahwa awal mula thawaf mengelilingi Baitullah adalah ketika para malaikat bertobat memohon ampun kepada Allah SWT atas pernyataan keberadaan mereka atas rencana Allah menciptakan manusia di muka bumi. Malaikatlah yang memulai sejarah pembangunan ka’bah

  1. pendapat bahwa ka’bah dibangun oleh Nabi Adam.

Pendapat itu salah satunya datang dari Junaidi Halim dalam bukunya Makkah-Madinah dan sekitarnya Ia menjelaskan, Mekah adalah kota tertua di dunia, yang telah ada sejak zaman Nabi Adam AS dan cikal bakal Ka’bah sebagai tempat thawaf  juga dibangun Nabi Adam AS atas perintah Allah.

  1. Ka’bah dibangun oleh anak-anak Nabi Adam.

Pendapat ini sebagaimana diriwayatkan al Azraqiy dan yang lainnya, dari Wahb bin Munabbih. Menurut as Suhailiy, yang membangun adalah Syits bin Adam.

 

  1. Ka’bah dibangun oleh Nabi Ibrahim AS dan anaknya Ismail AS.

Sejarah pembangunan ka’bah  Ini adalah pendapat yang paling masyhur dan banyak diikuti para ulama, yaitu ka’bah dibangun oleh Nabi Ibrahim AS dan anaknya Ismail AS. Hal ini juga dijelaskan di dalam Alqur’an dan hadits-hadits.

Bahwa riwayat-riwayat tersebut menjelaskan, bahwa Nabi Ibrahim dan Ismail adalah orang yang pertama mendirikan dan membangun ka’bah, walaupun tempat ka’bah, yaitu satu dataran yang tinggi dan menonjol dibandingkan dengan sekitarnya telah dikenal oleh para malaikat dan para nabi sebelum Ibrahim.

Ibnu Katsir, setelah memastikan bahwa orang pertama yang membangun ka’bah adalah Ibrahim dan Ismail, maka dia berkata, “Tidak ada satupun riwayat yang sah dari al-Ma’shum (Nabi) yang menjelaskan bahwa Ka’bah telah dibangun sebelum al Khalil (yaitu Ibrahim)”.

 

  1. Renovasi Ka’bah oleh bangsa Amaqil dan Jurhum

Imam as Suhailiy berkata,”Dikisahkan pada zaman Jurhum, ka’bah dibangun sekali atau dua kali karena banjir yang telah menghancurkan tembok ka’bah. (Tetapi) ini bukan termasuk melakukan pembangunan ka’bah, namun hanyalah perbaikan terhadap sesuatu yang diperlukan”.

  1. Renovasi Ka’bah oleh Qushay bin Kilab

As Samiy berkata, “Dinukilkan oleh az Zubair bin Bakar dalam kitab an Nasab, dan ditegaskan oleh Abu Ishaq al Mawardiy dalam al Ahkam as Sulthaniyah yang menyatakan, orang yang pertama merenovasi bangunan ka’bah dari kalangan Quraisy setelah Nabi Ibrahim adalah Qushay bin Kilab.

As Sakhawi mengatakan, Qushay mengumpulkan hartanya yang melimpah dan menghancurkan ka’bah serta menambah tinggi ka’bah menjadi 9 hasta dari yang telah dibangun pada zaman Nabi Ibrahim. Dia juga membuat atap dalam sejarah pembangunan Ka’bah dari kayu pohon ad-dum dan pelepah kurma, sehingga dialah orang pertama yang membuat atap ka’bah, kemudian di buka lagi hingga zaman Quraisy.

 

  1. Renovasi Ka’bah oleh bangsa Quraisy

Menurut ahli sejarah pembangunan Ka’bah ini terjadi pada saat usia Rasulullah SAW menginjak 35 tahun. Rasulullah SAW ikut serta dalam pembangunan ini dengan mengangkat batu-batu di atas pundaknya.

Ketika sampai pada peletakan Hajar Aswad, kaum Quraisy berselisih, siapa yang akan menaruhnya. Perselisihan ini nyaris menimbulkan pertumpahan darah, akan tetapi dapat diselesaikan dengan kesepakatan menunjuk seorang pengadil hakim yang memutuskan. Pilihan tersebut ternyata jatuh pada diri Muhammad.

Hasil renovasi bangunan Ka’bah oleh bangsa Quraisy antara lain :

  • Quraisy membangun ka’bah sesuai dengan fondasi bangunan Nabi Ibrahim.
  • Quraisy mengurangi lebar Ka’bah 6,5 (enam setengah) hasta dari arah Hijir Ismail, sebagaimana sekarang.
  • Menambah ketinggian Ka’bah menjadi 18 hasta.
  • Ka’bah pada sisi Hijir Ismail dijadikan melingkar, sebagaimana pada pembangunan oleh Nabi Ibrahim.
  • Quraisy membangun tembok pendek pada Hijir Ismail.
  • Meninggikan letak pintu dari tanah dan memberikan daun pintu yang dapat dikunci.
  • Menambah atap dan talang air (mizab) untuk mengatur pembuangan air dari atapnya dan dibuang kearah Hijir Ismail.
  • Memasang enam tiang penyangga dalam dua barisan di dalam ka’bah.
  • Bahan yang dipakai untuk membangun tidak hanya susunan batuan saja, tetapi juga dengan menggunakan tanah sebagai perekat.
  • Menghiasi atap dan tembok Ka’bah sebelah dalam, demikian pula dengan tiang-tiangnya. Mereka juga membuat gambar-gambar para nabi, malaikat dan pepohonan. Yang semua ini kemudian dihapus oleh Rasulullah SAW pada saat Fathul Mekah.
  1. Renovasi Ka’bah oleh Abdullah bin az Zubair

Ketika Ibnu az Zubair berencana membangun Ka’bah yang hendak dikembalikan sesuai dengan asas dan bentuk sebagaimana yang dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Ismail (sebelum adanya perubahan dari kaum Quraisy), maka beliau menyampaikan rencana ini kepada kaum muslimin, yang akhirnya disetujui. Kaum Muslimin pun segera memulai pembangunan.

Pertama, mereka menghancurkan bangunan Ka’bah yang ada sampai rata dengan tanah, lalu mencari fondasi Ka’bah yang telah dibuat oleh Nabi Ibrahim. Setelah menemukan, maka segera menegakkan tiang-tiang di sekitarnya dan menutupnya.

Kemudian, mulailah mereka membangun dan meninggikan bangunan Ka’bah secara bersama-sama, serta menambah tiga hasta yang telah dikurangi kaum Quraisy, menambah tinggi Ka’bah sepuluh hasta, lalu membuat dua pintu dari arah timur dan barat. Satu untuk masuk, dan yang lain untuk keluar.

Mereka meninggikan pintunya dari tanah, sehingga untuk menaikinya harus menggunakan tangga. Ketika Ibnu as Zubair membangunnya, dia menambah 9 hasta, sehingga menjadi 27 hasta hingga sekarang.

Demikian juga Ibnu al Zubair membuat dua pintu yang menempel ke tanah dari arah timur dan barat, untuk masuk dan keluar. Tinggi pintunya 11 hasta.

  1. Renovasi al Hajaj bin Yusuf ats Tsaqafiy atas perintah Khalifah Abdul Malik bin Marwan al Umawiy.

Pembangunan ini dilakukan, adanya keraguan Abdul Malik terhadap pendengaran Abdullah bin Zubair, berkaitan hadits Rasulullah SAW dari Aisyah :

“Kalau bukan karena kaumu baru lepas dari kejahiliyahan-atau, kekufuran—sungguh aku akan menghancurkan Ka’bah, membuatkan untuknya pintu dan aku tempelkan pintunya ke tanah, serta aku masukkan Hijir Ismail padanya”.

Akan tetapi kemudian al Harits bin Abdullah bin Abi Rabi’ah menguatkan dan membenarkan pendengaran ‘Abdullah bin az Zubair di hadapan Abdul Malik, sehingga menyebabkan Abdul Malik menyesal telah menghancurkan Ka’bah yang telah dibangun kembali oleh ‘Abdullah bin az Zubair.

hal ini juga diriwayatkan bahwa, Khalifah Harun ar Rasyid telah berencana untuk menghancurkan Ka’bah dan membangunnya kembali sebagaimana bangunan ‘Abdullah bin az Zubair, akan tetapi Imam Malik bin Anas berkata kepadanya,”Aku bersumpah, demi Allah, wahai Amirul Mukminin, janganlah engkau menjadikan Ka’bah ini sebagai permainan para raja setelah engkau, sehingga tidaklah seseorang dari mereka yang ingin mengubahnya, kecuali diapun akan mengubahnya, dan kemudian hilanglah kewibawaan Ka’bah dari hati kaum Muslimin,” lalu Khalifah Harun ar Rasyid pun menggagalkan rencana tersebut, sehingga Ka’bah masih tetap seperti itu sampai sekarang ini.

  1. Renovasi Ka’bah oleh Sultan Murad IV

Syaikh Muhammad Thahir al Kurdi mengatakan, yang memotivasi pembangunan oleh Sultan Murad IV, yaitu adanya hujan deras yang turun pada pagi hari Rahu 19 Sya’ban 1039H di Mekah dan sekitarnya, yang belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga menyebabkan air masuk ke dalam Masjidil Haram hingga ketinggian 2 meter dari pegangan pintu Ka’bah.

Kemudian, pada Asar keesokan harinya, yaitu hari kamis, dua sisi tembok bagian asy Syami (sebelah utara) Ka’bah runtuh, dan tertarik juga tembok timur sampai pintu Al Syaami dan tidak tersisa kecuali itu dan tiang pintunya. Dari tembok barat tersisa seperenamnya.

Dari sisi yang tampak ini, hanya sekitar dua pertiganya saja, serta sebagian atap yang sejajar dengan tembok asy Syami (utara) ikut rubuh.

Kemudian Sultan Murad IV memerintahkan pembangunan Ka’bah dan dapat diselesaikan pada bulan Ramadhan 1040 H, sesuai dengan bentuk bangunan al Hajjaj ats Tsaqafi. Pembangunan Sultan Murad IV inilah yang terakhir, hingga sekarang ini.

sumber