(0291) 291 2998 kudus@syakirawisata.com

Terletak sejauh 26 kilometer dari Masjidil Haram, Hudaibiyah adalah salah satu dari sejumlah tempat yang dipergunakan dan berperan penting sebagai Miqat Umroh. Berbeda dengan bangunan miqat Masjid Tan’im, lokasi miqat di Hudaibiyah sangatlah bersahaja, kecil dan hanya dapat menanpung rombongan kecil jamaah saja.

Walaupun sederhana, tetapi bangunan yang luasnya tidak lebih dari 1000 meter persegi ini mempunyai berjuta makna, terutama dalam tumbuh kembangnya sejarah Islam di Kota suci Makkah.

Masjid ini Nampak tidak terlampau luas, luasnya tidak melebihi luas masjid miqat bir Ali yang mempunyai ratusan toilet dan lokasi berganti pakaian. Masjid ini  mempunyai tidak lebih dari empat kamar mandi dan lokasi wudhu nya boleh dikata  paling sedikit jika dibandingkan masjid Miqat lain nya. Keberadaan lahan  parkir juga tidak seluas masjid Tan’im maupun Masjid Bir Ali di Madinah.

Kota ini terinspirasi dari nama suatu telaga, yakni telaga Asy-Syumaisi. Kota Hudaibiyah terletak di area perbatasan Tanah Haram yang berjarak dua puluh enam kilo dari Masjidil Haram. Kota ini adalah pintu masuk untuk umat muslim dalam memenangkan Fathul Makkah atau Pembebasan Kota Mekah.

Penamaan kota ini terinspirasi dari kisah perjanjian Hudaibiyah yang dilaksanakan oleh Rasululah SAW dengan paran kafir Quraisy. Kota ini adalahsalah satu kota yang sangat relevan dalam sejarah keislaman. Alasan itulah kenapa kota ini tidak jarang menjadi salah satu destinasi jutaan jamaah umroh dan haji dari beberapa Negara di dunia setiap  tahunnya.

Salah satu lokasi bersejarah di Kota Mekah ini terdiri dari wilayah dengan padang pasir yang terhampar luas. Daerah ini pun merupakan area pengembalaan unta dan kambing. Bahkan pemerintah Arab Saudi sedang mengerjakan pengembangan intensif pada area ini supaya menjadi sentra peternakan domba dan unta dan menjadi daya tarik untuk wisatawan. Di wilayah peternakan di tengah padang pasir ini, jamaah dapat melihat proses pemerahan susu unta dan juga diizinkan untuk menikmati susu khas fauna berpunuk tersebut.

Sejarah Kota Hudaibiyah

Perjanjian Hudaibiyah

Peristiwa ini bermula ketika pada Dzulqaidah 6 Hijriah saat Nabi Muhammad SAW akan menunaikan ibadah umrah dengan rombongan besar yang berjimlah  seribu lima ratus umat muslim. Tak semulus apa yang telah di rencanakan, rombongan ini malah  dicegat oleh kaum kafir Quraisy. Utsman bin Affan yang dikirim oleh Rasulullah guna berdiplomasi, namun justeru ditangkap.

Penangkapan Utsman bin Affan menyulut sumpah dari kaum muslimin untuk menyalakan perang. Sumpah guna memerangi kafir Quraisy itu terjadi di bawah suatu pohon di ambang telaga. Karena kesungguhan dan kebulatan Tekad umat muslim tersebut membuat  ciut nyali kaum Quraisy dan akhirnya melepaskan Utsman bin Affan dan dengan tipu daya mereka berdalih ingin menyelenggarakan negosiasi, yang kemudian menghasilkan sebuah perjanjian yang disebut Perjanjian Hudaibiyah.

Perjanjian Hudaibiyah yang sejatinya berlaku hingga 10 tahun, namun ternyata dilanggar oleh Kaum Kafir Quraisy sendiri. Namun pengkhianatan  inilah yang mengakibatkan kaum Muslim dapat membalasnya dengan penaklukan Mekkah (Fathul Makkah) pada tahun 630 M atau 8 Hijriyah. Hanya berjarak 2 tahun dari perjanjian Hudaibiyah

Ziarah ke Hubaidiyah

Di wilayah ini berdiri sebuah masjid tua yang kini bangunannya tidak utuh lagi. Masjid dengan ketebalan tembok satu hasta dan tinggi sekira tiga meter ini sudah dikata  tua, usianya kira-kira 1400 tahun. Masjid ini menyisakan dinding-dindingnya yang tersusun dari batu gunung, tanpa atap. Tersisa  tinggal puing-puingnya saja. Sedangkan unsur mihrab masjid justeru masih utuh dan dapat dilihat hingga sekarang.

Masjid tua tersebut telah tidak lagi dipakai semenjak dibangunnya masjid baru. Banyak yang tidak memahami bahwa puing-puing yang dulunya ialah masjid yang memeiliki arti penting sekaligus sebagai saksi saat diselenggarakan perjanjian dengan kaum musyrikin Mekah. Sumpah setia semua sahabat untuk Rasulullah itu dikenal dengan Baiturridwan.

Masjid baru telah dibangun di sebelah masjid tua dan sering dipakai untuk miqat umrah oleh semua peziarah yang akan melaksanakan ibadah umroh. Air wudhu dari masjid baru ini berasal dari suatu sumur tua yang terdapat di sebelah kiri mimbar masjid. Air sumur ini berasa sangat asin sebab Hubaidiyah memang tidak mempunyai sumber air tawar.

Karena kurangnya informasi dan pengetahuan serta kecerobohan tidak sedikit jamaah, maka puing-puing masjid tua tidak sedikit terdapat “buah pena” yang mengandung nama keluarga. Biasanya jamaah yang mengerjakan hal ini mempunyai maksud supaya nama family yang tertulis bisa terpanggil datang ke Tanah Suci. Oleh sebab itulah pentingnya manasik umroh dan mutawif atau pembimbing selama di yang baik.

Berbekal dari fenomena itulah Syakira Wisata selalu menyediakan pembimbing yang akan menemani jamaah saat mengerjakan umrah dan haji supaya tidak melakukan kekeliruan serupa baik di masjid ini ataupun di tempat-tempat yang lain.

Para mutawif yang sabar dan mengetahui sejarah serta seluk beluk Masjid Hudaibiyah akan menceritakan kisah dan sejarah  penting Hubaidiyah dan meluruskan setiap kekeliruan dengan maksud. Supaya tidak terjadi lagi yang  demikian dimana hal ini dapat  merusak keindahan masjid dan merusak nilai sejarahnya.

Syakira Wisata pun menyediakan pelbagai paket umrah dan haji yang bisa Anda pilih sesuai hajat keinginan dan kebutuhan Anda dan keluarga. Masjid Hudaibiyah Tempat Miqat Bersahaja yang Kaya Makna merupakan salah satu tujuan dari program ziarah dan city tour paket umroh Syakira Wisata. Silahkan  menghubungi nomor Customer Service yang tersaji untuk melakukan reservasi paket umroh murah yang di inginkan, atau ingin berkonsultasi seputar paket dan fasilitas Ibadah Umroh.