(0291) 291 2998 kudus@syakirawisata.com

Melempar jumrah merupakan salah satu ibadah wajib yang harus dijalankan oleh para jamaah peserta haji. Melempar jumrah bukanlah melempar setan, kegiatan ini biasanya dilakukan pada tanggal 10 hingga tanggal 13 Dzulhijjah. Kegiatan ini tidak dilakukan dalam sekali waktu namun dilakukan tiga atau empat hari. Melempar jumrah merupakan kegiatan ke sembalan dari rangkaian kegiatan ritual yang harus dilaksankan pada proses ibadah haji.

Urutan proses pelaksakaanya, ketika pagi setelah di muzdalifah jamaah ibadah haji dari biro umroh dan haji di kudus segera menuju mina untuk melakukan ibadah jumrah aqabah. Setelah itu para jamaah harus mencukur rambut seluruhnya ataupun sebagian kemudian melakukan tawaf haji dan menyelesaikan ibadah hajinya. Atau bermalam di mina untuk melaksanakan jumrah selanjutnya atau yang biasa di sebut aqabah, ula dan wustha.

Dalam kegiatan melempar jumrah tentunya menarik banyak bahkan jutaan jamaah haji dari berbagai negara. Sebuah ritual ibadah dengan jumlah Peserta yang ikut luar biasa besar, maka tidak jarang saat kegiatan ini dilakukan memakan banyak korban yang cidera atau bahkan meninggal dunia akibat padatnya jamaah yang ada.

Melempar jumrah adalah kegiatan yang dilakukan oleh “peserta” haji. Dilakukan dengan cara melempar batu kecil dan disunnahkan sebanyak 7 buah batu seperti yang dilakukan nabi Ibrahim. Kemudian dilemparkan ke tugu jamroh. Banyak umat Islam yang berpendapat bahwa ketika prosesi kegiatan lempar jumrah ini para jamaah haji sedang melempar batu kepada setan yang diikat di tugu jamroh.

Bahkan banyak jamaah haji yang melemparnya dengan botol, batu besar hingga sandal japit. seolah benar – benar menumpahkan emosi nya kepada setan yang diikat di tiang jamarat tersebut. Namun pada kenyataannya melempar jumrah bukanlah melempar setan seperti yang kebanyakan yang orang kira.

Sejarah Melempar Jumrah

Melempar jumrah bukanlah melempar setan, prosesi lempar jumrah merupakan bentuk perlawanan manusia kepada setan yang senantiasa berusaha untuk mengoda manusia dalam ibadah terhadap Allah SWT. Melempar jumrah merupakan simbol dari keteladanan sikap teguh Siti Hajar ketika mengadapi gangguan setan.

Diceritakan bahwa dahulu kala ketika Nabi Ibrahim membawa anaknya Nabi Ismail untuk dijadikan kurban, Setan Membujuk Siti Hajar agar Siti Hajar menghentikan langkah Nabi Ibrahim dan mengagalkan rencana untuk mengorbankan anaknya Nabi Ismail tersebut.

Ibu mana yang tega mengetahui buah hati yang telah ditunggu sejak lama pada akhirnya dikorbankan. Namun berbeda dengan Siti Hajar, karena keimanannya kepada Allah SWT ia tidak menghentikan langkah suaminya. Sadar telah diganggu oleh setan Siti Hajar kemudian mengambil batu dan melempari setan berkali-kali.

Melempar jumrah bukanlah melempar setan, kegiatan yang dilakukan tiga sampai empat kali ini bermakna bahwa Allah SWT benar-benar menyuruh manusia untuk memusuhi dan memerangi setan yang berusaha keras untuk menyesatkan mnausia.
Ketika para jamaah haji melempar batu ke tiang-tiang dalam jumrah, sesungguhnya itu berarti bahwa kita menghinakan setan dan setan marah akan hal ini.

Setiap melemparkan batu para jamaah peserta haji akan menganggungkan nama Allah SWT dengan ucapan BismillahiAllahuakbar. Yang berarti Allah maha besar dalam setiap lontaran jumrahnya. Ketika melakukan perjalanan menuju tempat jumrah para jamaah akan mengucapkan kalimat talbiah termasuk ketika ritual tawaf dan sai di masjidil haram. Hal ini tentunya akan semakin memantapkan keteguhan hati para muslimin ketika beribadah.Dan akan semakin menghancurkan setan yang berusaha mengodanya.

Jadi melempar jumrah bukanlah melempar setan. Pada intinya hikmah kegiatan melempar jumrah pada hakikatnya adalah Allah SWT menyuruh para umat islam untuk memerangi setan dengan sebenar benarnya permusuhan. Karena tipu daya setan merupakan tipu daya yang nyata. Semoga Allah SWT senantiasa membuat kita memusuhi setan. amiinn